Tulisan Suci Baha’i

Inilah Hari saat karunia-karunia Ilahi yang paling unggul telah dicurahkan kepada manusia, Hari saat anugerah-Nya yang paling agung telah diembuskan ke dalam segala ciptaan. Diwajibkan kepada semua bangsa di dunia untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan mereka, dan dengan persatuan dan perdamaian yang sempurna hidup di bawah naungan Pohon pemeliharaan dan kasih-sayang Tuhan. Mereka seyogianya berpegang teguh pada apa saja yang mengakibatkan keluhuran martabat mereka di Hari ini, serta yang memajukan kepentingan mereka yang terbaik. (Bahá’u’lláh)

Bergaullah dengan semua agama dalam persahabatan dan keselarasan, agar mereka dapat menghirup dari-Mu keharuman Tuhan. Berhati-hatilah, jangan sampai api kebodohan menguasai dirimu diantara orang-orang. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan kepada-Nyalah semua akan kembali. Ia sumber segala sesuatu dan semua berakhir kepada-Nya. (Bahá’u’lláh)

Diberkatilah dan berbahagialah ia yang bangkit untuk memajukan kepentingan-kepentingan terbaik semua kaum dan bangsa di bumi……… (Bahá’u’lláh)

Kami sangat senang melihat engkau setiap waktu bergaul dengan penuh persahabatan dan kerukunan di dalam surga rida-Ku, dan Kami sangat suka menghirup dari perbuatan-perbuatanmu bau harum keramah-tamahan dan kesatuan, kasih sayang dan persahabatan. Demikianlah nasihat yang diberikan kepadamu oleh Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Setia. Kami akan selalu bersamamu; jikalau Kami menghirup wangi persahabatanmu, kalbu Kami pasti akan bergembira, karena tiada sesuatu pun selain itu yang dapat memuaskan Kami. (Bahá’u’lláh)

“Bermurah hatilah di waktu kemakmuran, dan bersyukurlah di saat kesukaran. Jadilah patut untuk dipercaya oleh tetanggamu, dan pandanglah dia dengan wajah yang cerah dan ramah. Jadilah sumber kesejahteraan bagi yang miskin, pemberi peringatan bagi yang kaya, seorang yang menanggapi tangisan mereka yang membutuhkan, seorang  yang menjaga kesakralan janjinya. Jadilah adil dalam pertimbanganmu, dan bijaksana dalam bicaramu. Janganlah berlaku tidak adil pada siapapun, dan berendah hatilah terhadap semua orang. Jadilah bagaikan lampu bagi mereka yang berada dalam kegelapan, kegembiraan bagi yang sedih, danau bagi yang haus, tempat berlindung bagi yang sengsara, penyangga dan pembela korban penindasan. Biarlah integritas dan keteguhan moril menjadi ciri dari semua perbuatanmu. Jadilah tempat berteduh bagi yang asing, obat penyegar bagi yang sakit, sumber kekuatan bagi yang mengungsi. Jadilah mata bagi yang buta, dan cahaya pembimbing bagi yang sesat. Jadilah hiasan bagi wajah kebenaran, mahkota dikepala umat manusia,  panji dari balatentara keadilan, bintang di atas ufuk kebajikan, embun bagi tanah hati insani, bahtera di samudra pengetahuan, matahari di langit karunia, permata pada mahkota kearifan, cahaya yang bersinar di langit generasimu, buah dari pohon kerendahan hati.” (Bahá’u’lláh)

“Lidah yang lemah lembut adalah magnet bagi kalbu-kalbu manusia. Ia merupakan makanan rohani dan menghiasi kata-kata dengan arti. Ia merupakan sumber cahaya kebijaksanaan dan pengertian…..”(Bahá’u’lláh)

WAHAI ANAK-ANAK MANUSIA!

Tidak tahukah engkau mengapa Kami menjadikan engkau semua dari tanah yang sama? Supaya yang satu janganlah meninggikan dirinya di atas yang lainnya. Renungkanlah selalu dalam kalbumu bagaimana engkau dijadikan. Karena Kami telah menjadikan engkau semua dari zat yang sama, maka adalah kewajibanmu untuk laksana satu jiwa, berjalan dengan kaki yang sama, makan dengan mulut yang sama dan berdiam dalam negeri yang sama, supaya dari wujudmu yang terdalam, dengan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakanmu, tanda-tanda kesatuan dan hakikat keterlepasan dapat dijelmakan. Demikianlah nasihat-Ku kepadamu. Wahai kumpulan cahaya! Perhatikanlah nasihat ini, supaya engkau memperoleh buah kesucian dari pohon kemuliaan yang gaib. (Bahá’u’lláh)

WAHAI PUTRA ROH!

Aku telah menciptakan engkau mulia, namun engkau telah merendahkan dirimu sendiri. Maka naiklah ke derajat yang untuk derajat itu engkau diciptakan. (Bahá’u’lláh)

WAHAI PUTRA MANUSIA!

Janganlah menyebut dosa-dosa orang lain selama engkau sendiri seorang yang berdosa….” (Bahá’u’lláh)