Siapakah Baha’i?

Suatu hari Abdul Baha ditanya, “Apa artinya menjadi seorang Bahai?” Ia menjawab bahwa,

“Menjadi orang Baha’i berarti mencintai seluruh dunia; mencintai umat manusia dan berusaha untuk mengabdi kepada umat manusia; bekerja demi perdamaian dunia dan persaudaraan universal.”

Selaras dengan Ajaran-Nya yang bertujuan untuk tercapainya kesatuan umat manusia, kegiatan-kegiatan masyarakat Baha’i terbuka untuk semua kelompok masyarakat dari semua latar belakang agama, ras dan suku. Pada dasarnya kegiatan Baha’i meliputi serangkaian kegiatan kerohanian dan pendidikan untuk setiap tingkat usia.

Berdoa kepada Tuhan

Orang Bahá’i mengabdi kepada umat manusia dan juga berdoa bagi kebaikan sesama manusia. Kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan kita. Dia mengetahui apa yang kita inginkan dan butuhkan. Kalau demikian, mengapa kita harus berdoa lagi? Tuhan tidak memerlukan doa-doa kita, namun perkembangan roh kita tergantung pada doa, karena doa merupakan makanan rohani. Pada saat kita berdoa, kita sedang memberikan makanan rohani kepada roh kita dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengabdi kepada Umat Manusia

Pendidikan, menurut Bahá’u’lláh bukanlah sekedar membaca dan menulis, tujuan pendidikan haruslah “Mendidik umat manusia agar menyadari keluhuran jati dirinya, mengembangkan kapasitas rohaninya dan menggunakan kapasitas yang diperoleh tersebut bagi kebaikan sesama dan perbaikan seluruh dunia”. Dengan demikian mereka memberikan cinta mereka dan pengabdian mereka demi perbaikan seluruh dunia.