Ajaran Agama Baha’i

Kesatuan dan keanekaragaman

Agama Bahá’í percaya bahwa semua manusia adalah satu dan setara dihadapan Tuhan dan mereka harus diperlakukan dengan baik, harus saling menghargai dan menghormati. Segala bentuk prasangka baik ras, suku bangsa, agama, warna kulit, jenis kelamin dan lain-lain harus dihilangkan dan prasangka merupakan penghalang terbesar bagi terwujudnya suatu kehidupan yang damai dan harmonis di dalam suatu masyarakat yang beraneka ragam.

“Orang-orang yang dianugerahi dengan keikhlasan dan iman, seharusnya bergaul dengan semua kaum dan bangsa di dunia dengan perasaan gembira dan hati yang cemerlang, oleh karena bergaul dengan semua orang telah memajukan dan akan terus memajukan persatuan dan kerukunan, yang pada gilirannya akan membantu memelihara ketenteraman di dunia serta memperbarui bangsa-bangsa.” (Bahá’u’lláh)

Pendidikan diwajibkan bagi setiap manusia

Bahá’u’lláh memberi kewajiban kepada orangtua untuk mendidik anak-anak mereka, baik perempuan maupun laki-laki. Di samping pelajaran keterampilan, keahlian, seni, dan ilmu pengetahuan, dan yang paling diutamakan adalah pendidikan akhlak dan moral anak-anak. Tanpa pendidikan, seseorang tidak mungkin mencapai seluruh potensinya atau memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan haruslah universal dan wajib bagi semua.

“Kami menetapkan bagi semua manusia, apa yang akan memuliakan Firman Tuhan di tengah hamba-hamba-Nya, dan juga akan memajukan dunia wujud dan meluhurkan jiwa-jiwa. Sarana terbaik untuk mencapai tujuan itu adalah pendidikan anak-anak. Semua orang harus berpegang teguh pada hal itu.” (Bahá’u’lláh)

Kesetaraan antara pria dan wanita

Harus tersedia kesempatan yang sama bagi perkembangan wanita dan pria, terutama kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Wanita dan pria adalah bagaikan dua belah sayap dari burung kemanusiaan. Perkembangan seluruh kemampuan dan potensi masyarakat hanya dapat diwujudkan bila kedua sayapnya itu sama kuat.

“Umat manusia bagaikan seekor burung dengan kedua sayapnya: laki-laki dan perempuan. Burung itu tak dapat terbang ke langit kecuali kedua sayapnya kuat dan digerakkan oleh kekuatan yang sama.” (Abdu’l-Bahá)

Kesetaraan penuh dan kesadaran yang kuat akan kemitraan antara perempuan dan laki-laki sangatlah penting bagi kemajuan manusia dan transformasi masyarakat.

“Pria dan wanita telah dan akan selalu sama dalam pandangan Tuhan.” (Bahá’u’lláh)

Penghapusan Prasangka

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa segala bentuk prasangka harus dihapuskan, baik prasangka kebangsaan, ras, politik maupun keagamaan. Selama orang-orang masih berpegang pada prasangka, kita tidak akan mendapatkan perdamaian di bumi ini. Semua peperangan yang telah terjadi di masa lalu, segala pertumpahan darah, disebabkan karena prasangka-prasangka itu. Masyarakat Bahá‘i percaya bahwa semua jenis prasangka dapat dihilangkan melalui proses pendidikan yang memberikan keleluasan pencarian kebenaran secara bebas tanpa paksaan dan tekanan.

“Wahai anak-anak manusia! Tidak tahukah engkau mengapa Kami menjadikan engkau semua dari tanah yang sama? Supaya yang satu janganlah meninggikan dirinya di atas yang lainnya. Renungkanlah selalu dalam kalbumu bagaimana engkau dijadikan. Karena Kami telah menjadikan engkau semua dari zat yang sama, maka adalah kewajibanmu untuk menjadi laksana satu jiwa, berjalan dengan kaki yang sama, makan dengan mulut yang sama, dan berdiam dalam negeri yang sama…” (Bahá’u’lláh)

Kesetiaan kepada pemerintah

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa di negara manapun umat Bahá’í menetap, mereka harus bersikap setia, lurus dan jujur kepada pemerintah negara itu”. Umat Bahá’í percaya, bahwa patriotisme yang sehat dan benar, yang berbasis pada prinsip kesatuan umat manusia, yang menghormati dan mencerminkan keanekaragaman nilai-nilai budaya, akan mengakibatkan persatuan dalam masyarakat dan bangsa.

“Dalam setiap negara dimana masyarakat ini tinggal, mereka harus bersikap setia, jujur dan dapat dipercaya terhadap pemerintah.” (Bahá’u’lláh)

“Hakikat dari jiwa Bahá’í adalah kesetiaan pada hukum-hukum dan prinsip-prinsip pemerintah agar suatu tata-tertib sosial dan kondisi ekonomi yang lebih baik dapat didirikan.” (‘Abdu’l-Bahá)

Musyawarah sebagai landasan pengambilan keputusan

Bahá’u’lláh menyeru kepada umat manusia agar bersandar pada musyawarah sebagai sarana untuk mengambil keputusan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam masalah pribadi maupun persoalan umum. Musyawarah merupakan sarana untuk menemukan kebenaran dalam segala persoalan. Musyawarah juga mendorong pencarian kemungkinan baru, membangun kesatuan dan kemufakatan serta menjamin kesuksesan pelaksanaan keputusan kelompok.

“Musyawarah menghasilkan kesadaran yang lebih dalam dan mengubah dugaan menjadi keyakinan. Musyawarah adalah laksana sebuah cahaya cemerlang, yang membimbing dan menunjukkan jalan di dalam dunia yang gelap. Dalam setiap hal, selalu dan selamanya memiliki suatu tingkat kesempurnaan dan kedewasaan. Tingkat kedewasaan dari berkah pengertian akan diwujudkan melalui musyawarah.” (Bahá’u’lláh)

Mencari Kebenaran Secara Independen

Setiap manusia telah dibekali oleh Sang Pencipta dengan instrumen-instrumen yang diperlukan untuk dapat menentukan jalan kebenarannya secara bebas dan mandiri. Kebenaran adalah tunggal bila diselidiki secara bebas, dan kebenaran tidak menerima perpecahan. Oleh karena itu penyelidikan kebenaran secara independen akan mengarah pada kesatuan umat manusia. Melalui penyelidikan kebenaran secara mandiri dan independen kemanusiaan dapat terselamatkan dari kegelapan ikut-ikutan dan akan mencapai pada kebenaran. Hanya bila keyakinan itu ia dapat melalui cara ini, ia dapat menikmati kemajuan jasmani dan rohaninya di dunia ini.

…Ketahuilah bahwa Tuhan telah menciptakan dalam diri manusia kekuatan pikiran agar dia mampu menyelidiki realita. Tuhan tidak bermaksud agar manusia secara buta mengikuti nenek moyangnya. Dia telah memberikan pikiran dan akal dengan mana ia menyelidiki dan menemukan kebenaran; dan apa yang dia temui sebagai benar dan nyata haruslah dia terima. Dia tidak boleh menjadi imitator dan pengikut buta dari siapapun. Dia tidak boleh hanya bergantung pada pendapat dari siapapun tanpa penyelidikan; … Penyebab utama dari kesedihan dan keputusasaan di dunia ini adalah ketidaktahuan sebagai akibat dari ikut-ikutan yang buta. Karena inilah perang dan pertempuran terjadi; dari sinilah bermula kebencian dan permusuhan terus bermunculan diantara umat manusia. …….(Abdu’l-Baha)

Wahai Putra Roh!
Di dalam pandangan-Ku, keadilanlah yang teramat Kucintai; janganlah berpaling darinya jika engkau menginginkan Daku, dan janganlah mengabaikannya agar Aku percaya padamu. Dengan pertolongannya engkau akan melihat dengan matamu sendiri, bukan dengan mata orang lain, dan engkau akan mengetahui melalui pengetahuanmu sendiri, bukan melalui pengetahuan orang lain. Pertimbangkanlah hal ini dalam hatimu, bagaimana engkau seharusnya. Sesungguhnya, keadilan adalah pemberian-Ku dan tanda kasih sayang-Ku kepaddamu. Maka letakkanlah keadilan di depan matamu. – (Bahá’u’lláh)

Sifat Dasar Manusia dan Keluhurannya

Agama Bahá’í percaya bahwa semua manusia diciptakan mulia dan dilengkapi dengan potensi-potensi rohani yang diperlukan untuk hidup dalam keluhuran dan kemuliaan jati dirinya. Tuhan tidak menciptakan ketidaksempurnaan. Sifat-sifat yang merugikan itu adalah indikasi dari tidak tumbuh dan berkembangnya potensi-potensi tersebut dan bukan merupakan ketidaksempurnaan pencipta-Nya.

Kekacauan, ketidakadilan dan degradasi moral dunia ini hanyalah cerminan distorsi dari jiwa manusia, dan sama sekali bukan tabiat sejatinya. Setiap manusia akan bisa menggapai seluruh potensi-potensi Ilahiah yang dimilikinya dan mampu mencerminkan sifat keluhuran tersebut dalam suatu wujud peradaban yang luhur. Potensi-potensi Ilahiah ini dapat tergali hanya melalui proses pendidikan rohani yang sistematis dan partisipatif, tanpa prasangka, serta berbasis pada proses pencarian kebenaran yang bebas dan tanpa paksaan, berdasarkan akal dan hati nuraninya sendiri.

Wahai Putra Roh!
Aku telah menciptakan engkau mulia, namun engkau telah merendahkan dirimu sendiri. Maka naiklah pada tingkat yang untuk mana engkau diciptakan.” (Bahá’u’lláh)

“Wahai Putra Manusia!
Pada pohon kemuliaan yang cemerlang, Aku telah mengantungkan bagimu buah-buahan yag paling lezat, mengapa engkau berpaling daripadanya dan puas dengan apa yang kurang baik? Maka kembalilah pada apa yang lebih baik bagimu di Kerajaan Yang Tinggi.” (Bahá’u’lláh)