Makam Suci Sang Bab di Haifa Makam Suci Sang Bab di Haifa Makam Suci Sang Bab di Haifa Rumah Ibadah Bahá’í, New Delhi, India - di masyarakat setempat dikenal dengan 'Rumah Ibadah Lotus' - yang baru-baru ini ulang tahunnya yang ke-25 dirayakan. Rumah Ibadah Bahá’í di Jerman Makam Sang Bahá'ulláh di Akka Makam Sang Bahá'ulláh di Akka Rumah Ibadah Bahá’í di Chile - sedang dalam proses pembangunan Rumah Ibadah Bahá’í di Samoa
"Agama Tuhan adalah untuk cinta dan kesatuan, janganlah menjadikannya sebagai sebab permusuhan dan perselisihan..."
Bahá’u’lláh

Agama Bahá'i

Sepanjang sejarah, Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya kepada manusia melalui serangkaian Utusan Ilahi, yang ajaran-Nya membimbing dan mendidik kita dan memberikan dasar bagi kemajuan masyarakat seluruh umat manusia. Utusan-utusan ini kita kenal seperti Buddha, Ibrahim, Krishna, Muhammad, Musa, Yesus, Zoroaster dan banyak yang lainnya. Agama mereka berasal dari satu Sumber yang sama dan pada hakikatnya merupakan bab-bab yang berurutan dari satu agama dari Tuhan.

Bahá'u'lláh, salah satu dari utusan tersebut, yang muncul di pertengahan abad 19 membawa ajaran-ajaran spiritual dan sosial baru untuk zaman kita. Pesan penting-Nya adalah persatuan. Dia mengajarkan bahwa Tuhan adalah satu, keluarga umat manusia adalah satu, dan agama pada hakikatnya adalah satu.

Bahá'u'lláh berkata bahwa manusia adalah "buah-buah dari satu pohon dan daun dari satu dahan" dan bahwa bumi hanyalah satu kesatuan tunggal dan semua umat manusia adalah warganya," dan bahwa, sebagaimana diramalkan dalam semua kitab suci di masa lalu, sekarang adalah saatnya bagi umat manusia untuk hidup dalam kesatuan. Saat ini manusia mampu melihat dunia sebagai satu planet dimana semua manusia sebagai satu keluarga.

Diperkenalkan lebih dari satu setengah abad yang lalu, Agama Bahá'í telah menyebar ke seluruh dunia. Anggota Agama Bahá'í tinggal di lebih dari 100.000 lokalitas dan berasal hampir dari setiap negara, kelompok etnis, suku, budaya, profesi, dan latar belakang sosial atau ekonomi.

Bahá'i Percaya:

Ketuhanan Yang Maha Esa

Keyakinan Agama  Bahá'í pada Tuhan Yang Maha Esa berarti bahwa alam semesta dan semua makhluk serta segala kekuatan yang ada di dalamnya telah diciptakan oleh satu Wujud supernatural yang tunggal.

Berbagai sebutan seperti Tuhan, Allah, Yahweh, dan Brahma semuanya merujuk pada Satu Wujud Ilahi, yang sifat-Nya tidak bisa diketahui dan dipahami oleh manusia.

Kita belajar tentang Tuhan melalui para Utusan-Nya, yang mengajar dan membimbing umat manusia.

Semua agama berasal dari Tuhan

Ketika seorang Bahá'í mengatakan bahwa semua agama adalah satu, itu tidak berarti bahwa semua keyakinan dan  masyarakatnya adalah sama.

Melainkan, dia meyakini bahwa Tuhan telah mengungkapkan Diri-Nya melalui serangkaian Utusan Ilahi, yang tujuannya adalah untuk membimbing dan mendidik umat manusia.

Mereka semua adalah ungkapan dari tujuan Ilahi yang tunggal, "Inilah Agama Allah yang tak berubah-ubah, abadi pada masa lampau, kekal pada masa yang akan datang."

Seluruh umat manusia adalah satu keluarga

Ajaran-ajaran Bahá’í menekankan bahwa kita semua, sebagai ciptaan dari satu Tuhan, adalah bagian dari satu keluarga umat manusia.

Bahá’u’lláh berkata, “Kemah kesatuan telah ditegakkan; janganlah engkau memandang satu sama lain sebagai orang asing. Engkau adalah buah-buah dari satu pohon dan daun-daun dari satu dahan.”

Orang-orang hampir dari setiap latar belakang, di setiap negara, telah menjadi Bahá’í.

Pria dan wanita adalah sama

Kesetaraan penuh dan kesadaran yang kuat akan kemitraan antara perempuan dan laki-laki sangatlah penting bagi kemajuan manusia dan transformasi masyarakat.

“Pria dan wanita telah dan akan selalu sama dalam pandangan Tuhan," kata Bahá'u'lláh.

Masyarakat Bahá'í di seluruh dunia telah berada di barisan depan dari gerakan untuk memajukan hak-hak wanita selama lebih dari satu abad.

Perdamaian Dunia adalah kebutuhan yang sangat mendesak dari jaman ini

Apakah perdamaian akan dicapai hanya setelah kengerian-kengerian yang tak terbayangkan yang disebabkan sikap keras kepala manusia untuk tetap berpegang teguh pada pola tingkah laku yang lama, ataukah sekarang perdamaian itu akan diraih melalui suatu tindakan nyata dari permusyawarahan, inilah pilihan bagi semua yang mendiami bumi.

Masyarakat Bahá’í percaya bahwa umat manusia dapat menghadapi cobaan besar ini dengan keyakinan akan hasil akhirnya yang baik.

Tautan